PEKALONGAN TIMUR – Perajin batik terpuruk dipendemi corona tahun kedua ini, diperparah larangan mudik, perajin memutar otak untuk jualan online dan berinovasi agar produk menarik, suasana pasar grosir setono sepi pembeli, banyak toko yang tutup. omzet turun hingga 80 persen.
Lesunya batik ini, juga di rasakan bagi pedagang batik di Pasar Grosir Setono Kota Pekalongan, harapan besar meraup rejeki di saat arus mudik dan arus balik hanya mimpi belaka, Pemerintah sudah memberlakukan larangan mudik, kondisi ini kali keduanya sejak pendemi corona tahun lalu, beberapa toko di Grosir Setono Pekalongan ini sengaja ditutup untuk efisiensi, namun sebagian besar tetap buka mengadu nasib menjelang lebaran.
Bagi para pedagang, kondisi seperti ini sudah terjadi sejak tahun lalu. di tahun pertama pendemi corona, omzet pedagang batik turun hingga mencapai delapan puluh persen dari kondisi harianya. Para pedagang berharap agar mudik tetap dilakukan, walaupun dengan mengedepankan protokol kesehatan.
Bagi pedagang batik di Setono Pekalongan ini, adanya pemudik merupakan harapan mereka untuk kembali menghidupkan industri batik yang saat ini tengah suram.
Keterpurukan pekerja batik ini dirasakan sejak adanya pendemi corona, pembatasan kegiatan masyatakat, membuat toko-toko, galery dan pasar batik sepi pengunjung, akibatnya banyak toko yang tutup, bahkan membuat para pengusaha batik terpaksa merumahkan ratusan pekerja batik.
Para perajin dan pengusaha batik, kini hanya memaksimalkan penjualan online, walaupun hasilnya tidak semaksimal penjualan offline. penjualan online dilakukan untuk memudahkan pembeli, perajin juga melakukan inovasi-inovasi karya batiknya.(4son-3D)


Komentar ditutup.